Rabu, 04 Januari 2012


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN Dx.MEDIS LBP
(LOW BACK PAIN )
BANGSAL : DAHLIA 2 ( RSUP. DR.SARDJITO,YOGYAKARTA)









Disusun Oleh :
Nama              : Erwinda
Nim                 : 2120101769
Semester         : lll ( Tiga )
AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO YOGYAKARTA
TAHUN 2011-2012

NYERI PINGGANG BAWAH ( LOW BACK PAIN )
1.      DEFINISI
·         Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya gejala akibat dari penyebab yang sangat beragam.
·         Low Back Pain (LBP) atau Nyeri punggung bawah adalah suatu sensasi nyeri yang dirasakan pada diskus intervertebralis umumnya lumbal bawah, L4-L5 dan L5-S1.
Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi dua yaitu :
A. Acute low back pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatic seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri pinggang acute terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
B. Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan tumor.
Disamping hal tersebut diatas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik yang juga dapat dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
  1. Trauma
  2. Infeksi
  3. Neoplasma
  4. Degenerasi
  5. Kongenital
2.      Etiologi
Kebanyakan nyeri punggung bawah disebabkan oleh salah satu dari berbagai masalah muskuloskeletal (misal regangan lumbosakral akut, ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot, osteoartritis tulang belakang, stenosis tulang belakang, masalah diskus intervertebralis, ketidaksamaan panjang tungkai). Penyebab lainnya meliputi obesitas, gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor retroperitoneal, aneurisma abdominal dan masalah psikosomatik. Kebanyakan nyeri punggung akibat gangguan muskuloskeletal akan diperberat oleh aktifitas, sedangkan nyeri akibat keadaan lainnya tidak dipengaruhi oleh aktifitas .
3.      PENYEBAB
Penyebab nyeri pinggang bawah bermacam-macam dan multifaktor. Di antaranya dapat disebut :
1)      KELAINAN KONGENITAL
Kelainan kongenital tidak merupakan penyebab nyeri pinggang bawah yang penting. Kelainan kongenital yang dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah adalah :
a)      Spondilolisis dan spondilolistesis
Pada Spondilolisis tampak bahwa sewaktu pembentukan korpus vertebrae itu     ( in utero ) arkus vertebrae tidak bertemu dengan korpus vertebraenya sendiri.Pada spondilolistesis korpus vertebrae itu sendiri ( biasanya L5 ) tergeser ke depan.Walaupun kejadian ini terjadi sewaktu bayi itu masih berada dalam kandungan, namun ( oleh karena timbulnya kelinan-kelainan degeneratif ) sesudah berumur 35 tahun, barulah timbul keluhan nyeri pinggang. Nyeri pinggang ini berkurang / hilang bila penderita duduk atau tidur. Dan akan bertambah, bila penderita itu berdiri atau berjalan.
Spondilolitesis dapat mengakibatkan tertekuknya radiks L5 sehingga timbul nyeri radikuler.
b)      Spina Bifida
Bila di daerah lumbosakral terdapat suatu tumor kecil yang ditutupi oleh kulit yang berbulu, maka hendaknya kita waspada bahwa didaerah itu ada tersembunyi suatu spina bifida okulta.
Pada foto rontgen tampak bahwa terdapat suatu hiaat pada arkus spinosus di daerah lumbal atau sakral. Karena adanya defek tersebut maka pada tempat itu tidak terbentuk suatu ligamentum interspinosum.
Keadaan ini akan menimbulkan suatu “lumbo-sakral sarain” yang oleh si penderita dirasakan sebagai nyeri pinggang.
c)      Stenosis kanalis vertebralis
Diagnosis penyakit ini ditegakkan secara radiologis. Walaupun penyakit telah ada sejak lahir, namun gejala-gejalanya baru tampak setelah penderita berumur 35 tahun.
Gejala yang tampak adalah timbulnya nyeri radikuler bila si penderita jalan dengan sikap tegak. Nyeri hilang begitu penderita berhenti jalan atau bila ia duduk. Untuk menghilangkan rasa nyerinya maka penderita lantas jalan sambil membungkuk.
d)      Spondylosis lumbal
Penyakit sendi degeneratif yang mengenai vertebra lumbal dan discus intervertebralis, yang menyebabkan nyeri dan kekakuan.
e)      Spondylitis.
Suatu bentuk degeneratif sendi yang mengenai tulang belakang . ini merupakan penyakit sistemik yang etiologinya tidak diketahui, terutama mengenai orang muda dan menyebabkan rasa nyeri dan kekakuan sebagai akibat peradangan sendi-sendi dengan osifikasi dan ankilosing sendi tulang belakang.
4.      FAKTOR RESIKO
Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, etnis, merokok sigaret, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat yang berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal dan faktor psikososial. Pada laki-laki resiko nyeri pinggang meningkat sampai usia 50 tahun kemudian menurun, tetapi pada wanita tetap terus meningkat. Peningkatan insiden pada wanita lebih 50 tahun kemungkinan berkaitan dengan osteoporosis.
5.      LOKASI
Lokasi untuk nyeri pinggang bawah adalah daerah lumbal bawah, biasanya disertai penjalaran ke daerah-daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus, bokong, kebawah lateral atau posterior paha, tungkai, dan kaki.
6.      DIAGNOSA
1. ANAMNESA
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan dalam menganamnesa pasien dengan kemungkinan diagnosa Low Back Pain.
1. Apakah terasa nyeri ?
2. Dimana terasa nyeri ?
3. Sudah berapa lama merasakan nyeri ?
4. Bagaimana kuantitas nyerinya? (berat atau ringan)
5. Apa yang membuat nyeri terasa lebih berat atau terasa lebih ringan?
6. Adakah keluhan lain?
7. apakah dulu anda ada menderita penyakit tertentu?
8. bagaimana keadaan kehidupan pribadi anda?
9. bagaimana keadaan kehidupan sosial anda?
2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan fisik secara komprehensif pada pasien dengan nyeri pinggang meliputi evaluasi sistem neurologi dan muskuloskeltal. Pemeriksaan neurologi meliputi evaluasi sensasi tubuh bawah, kekuatan dan refleks-refleks
1. Motorik.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :
a. Berjalan dengan menggunakan tumit.
b. Berjalan dengan menggunakan jari atau berjinjit.
c. Jongkok dan gerakan bertahan ( seperti mendorong tembok )
2. Sensorik.
a. Nyeri dalam otot.
b. Rasa gerak.
3.Refleks.
Refleks yang harus di periksa adalah refleks di daerah Achilles dan Patella, respon dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui  lokasi terjadinya lesi pada saraf spinal.
4. Test-Test
a. Test Lassegue
Pada tes ini, pertama telapak kaki pasien ( dalam posisi 0° )  didorong ke arah     muka kemudian setelah itu tungkai pasien diangkat sejauh 40° dan sejauh 90°.
5



b. Test Patrick
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan di pinggang dan pada sendi sakro iliaka. Tindakan yang dilakukan adalah fleksi, abduksi, eksorotasi dan ekstensi.
6
c. Test Kebalikan Patrick
Dilakukan gerakan gabungan dinamakan fleksi, abduksi, endorotasi, dan ekstensi           meregangkan sendi sakroiliaka. Test Kebalikan Patrick positif menunjukkan kepada            sumber nyeri di sakroiliaka.
PENUNJANG
FOTO
1.Plain
X-ray adalah gambaran radiologi yang mengevaluasi tulang,sendi, dan luka degeneratif pada spinal.Gambaran X-ray sekarang sudah jarang dilakukan, sebab sudah banyak peralatan lain yang dapat meminimalisir waktu penyinaran sehingga efek radiasi dapat dikurangi.X-ray merupakan tes yang sederhana, dan sangat membantu untuk menunjukan keabnormalan pada tulang. Seringkali X-ray merupakan penunjang diagnosis pertama untuk mengevaluasi nyeri punggung, dan biasanya dilakukan sebelum melakukan tes penunjang lain seperti MRI atau CT scan. Foto X-ray dilakukan pada posisi anteroposterior (AP ), lateral, dan bila perlu oblique kanan dan kiri.
7
2. Myelografi
Myelografi adalah pemeriksan X-ray pada spinal cord dan canalis spinal. Myelografi merupakan tindakan infasif, yaitu cairan yang berwarna medium disuntikan ke kanalis spinalis, sehingga struktur bagian dalamnya dapat terlihat pada layar fluoroskopi dan gambar X-ray. Myelogram digunakan untuk diagnosa pada penyakit yang berhubungan dengan diskus intervertebralis, tumor spinalis, atau untuk abses spinal.
8
3. Computed Tornografi Scan ( CT- scan ) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI )
CT-scan merupakan tes yang tidak berbahaya dan dapat digunakan untuk pemeriksaan pada otak, bahu, abdomen, pelvis, spinal, dan ekstemitas. Gambar CT-scan seperti gambaran X-ray 3 dimensi.
MRI dapat menunjukkan gambaran tulang belakang yang lebih jelas daripada CT-scan. Selain itu MRI menjadi pilihan karena tidak mempunyai efek radiasi. MRI dapat menunjukkan gambaran tulang secara sebagian sesuai dengan yang dikehendaki. MRI dapat memperlihatkan diskus intervertebralis, nerves, dan jaringan lainnya pada punggung.
9
4. Electro Miography ( EMG ) / Nreve Conduction Study ( NCS )
EMG / NCS merupakan tes yang aman dan non invasif yang digunakan untuk pemeriksaansaraf pada lengan dan kaki.
EMG / NCS dapat memberikan informasi tentang :
1. Adanya kerusakan pada saraf
2. Lama terjadinya kerusakan saraf ( akut atau kronik )
3. Lokasi terjadinya kerusakan saraf ( bagian proksimalis atau distal )
4. Tingkat keparahan dari kerusakan saraf
5. Memantau proses penyembyhan dari kerusakan saraf
Hasil dari EMG dan MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi fisik pasien dimana mungkin perlu dilakukan tindakan selanjutnya yaitu pambedahan.
PENGOBATAN
Obat
1.   Obat-obat analgesik
Obat-obat analgesik umumya dibagi menjadi dua golongan besar :
-         Analgetik narkotik
Obat-obat golongan ini terutama bekerja pada susunan saraf digunakan untuk menghilangkan rasa sakit yang berasal dari organ viseral. Obat golongan ini hampir tidak digunakan untuk pengobatan LBP karena bahaya terjadinya adiksi pada penggunaan jangka panjang. Contohnya : Morfin, heroin, dll.
-         Analgetik antipiretik
Sangat bermanfat untuk menghilangkan rasa nyeri mempunyai khasiat anti piretik, dan beberapa diantaranya juga berkhasiat antiinflamasi. Kelompok obat-obat ini dibagi menjadi 4 golongan :
a) Golongan salisilat
Merupakan analgesik yang paling tua, selain khasiat analgesik juga mempunyai khasiat antipiretik, antiinflamasi, dan antitrombotik. Contohnya : Aspirin
Dosis Aspirin :       Sebagai anlgesik 600 – 900 mg, diberikan 4 x sehari
Sebagai antiinflamasi 750 – 1500 mg, diberikan 4 x sehari
Kontraindikasi :     Penderita tukak lambung,Resiko terjadinya pendarahan,Gangguan faal ginjal,Hipersensitifitas
Efek samping :       Gangguan saluran cerna, Anemia defisiensi besi,Serangan asma bronkial
b) Golongan Paraaminofenol
Paracetamol dianggap sebagai analgesik-antipiretik yang paling aman untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa disertai inflamasi.
Dosis terapi :         600 – 900 mg, diberikan 4 x sehari
c) Golongan pirazolon
Dipiron mempunyai aceptabilitas yang sangat baik oleh penderita, lebih kuat dari pada paracetamol, dan efek sampingnya sangat jarang.
Dosis terapi :         0,5 – 1 gram, diberikan 3 x sehari
d) Golongan asam organik yang lain
Derivat asam fenamat
Yang termasuk golongan ini misalnya asam mefenamt, asam flufenamat, dan Na-    meclofenamat.Golongan obat ini sering menimbulkan efek samping terutama diare.Dosis asam mefenamat sehari yaitu 4×500 mg,sedangkan dosis Na-meclofenamat sehari adalah 3-4 kali 100 mg.
Derivat asam propionat
Golongan obat ini merupakan obat anti inflamasi non steroid (AINS) yang relatif   baru, yang juga mempunyai khasiat anal getik dam anti piretik. Contoh obat golongan ini misalnya ibuprofen, naproksen, ketoprofen, indoprofen dll.
Derifat asam asetat
Sebagai contoh golonagn obat ini ialah Na Diklofenak. Selain mempunyai efek anti inflamasi yang kuat, juga mempunyai efek analgesik dan antipiretik. Dosis terapinya 100-150 mg 1 kali sehari.
Derifat Oksikam
Salah satu contohnya adalah Piroxicam, dosis terapi 20 mg 1 kali sehari.
DAFTAR PUSTAKA
Lumbantobing SM, Tjokronegoro A, Junada A. Nyeri Pinggang Bawah. Jakarta.  Fakultas . Kedokteran Universitas Indonesia. 1983
Nursamsu, Handono Kalim. Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyeri Pinggang. Malang. Lab./SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Brawijaya. 2004
Dorland, W.A. Newman.
Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta. EGC. 2002



Minggu, 01 Januari 2012

REKAYASA REPRODUKSI


REKAYASA REPRODUKSI
      Rekayasa reproduksi adalah suatu usaha manusia untuk mengembangbiakan makhluk hidup dengan cara rekayasa tahapan-tahapan proses reproduksi yang berlangung secara alami.

Rekayasa reproduksi tidak hanya dilakukan pada tumbuhan dan hewan, tetapi manusia juga bisa dijadikan objek dalam teknologi. Ada beberapa teknik rekayasa reproduksi yang kita kenal, antara lain dengan cara kultur jaringan, kloning, hibridisasi, inseminasi buatan, dan bayi tabung.

1. Kultur jaringan

      Pelaksanaan teknik kultur jaringan bertujuan untuk memperbanyak jumlah tanaman. Tanaman yang dikultur biasanya adalah bibit unggul. Dengan teknik ini, kita bisa mendapatkan keturunan bibit unggul dalam jumlah yang banyak dan memiliki sifat yang sama dengan induknya. Kultur jaringan sebenarnya memanfaatkan sifat totipotensi yang dimiliki oleh sel tumbuhan.

      Totipotensi yaitu kemampuan setiap sel tumbuhan untuk menjadi individu yang sempurna. Teori totipotensi ini dikemukakan oleh G. Heberlandt tahun 1898. Dia adalah seorang ahli fisiologi yang berasal dari Jerman. Pada tahun 1969, F.C. Steward menguji ulang teori tersebut dengan menggunakan objek empulur wortel. Dengan mengambil satu sel empulur wartel, F.C. Steward bisa menumbuhkannya menjadi satu individu wortel. Pada tahun 1954, kultur jaringan dipopulerkan oleh Muer, Hildebrandt, dan Riker.

      Kultur jaringan memerlukan pengetahuan dasar tentang kimia dan biologi. Pada teknik ini kamu hanya membutuhkan bagian tubuh dari tanaman. Misalnya batang hanya seluas beberapa millimeter persegi saja. Jaringan yang kamu ambil untuk dikultur disebut eksplan. Biasanya, yang dijadikan eksplan adalah jaringan muda yang masih mampu membelah diri. Misalnya ujung batang, ujung daun, dan ujung akar.

      Kultur jaringan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu:

a. Mensterilkan eksplan. Caranya adalah direndam dalam alkohol 70% atau kalsium hipoklorit 5% selama beberapa menit.

b. Gunakan botol atau tabung yang sudah disterilkan, isi dengan media. Masukkan potongan jaringan yang sudah disterilkan di atas media dalam botol. Media yang digunakan terdiri atas:
  • Unsur-unsur atau garam mineral: Unsur makro: C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg. Unsur mikro: Zn, Mn, Mo, So.
  • Asam amino, vitamin, gula, hormon, dengan perbandingan tertentu.
  • Media cair; bahan-bahan di atas dicampur akuades.
  • Media padat; bahan-bahan di atas campur dengan agar-agar.

      Media cair dan padat tersebut kemudian disterilkan dengan menggunakan mesin khusus yang disebut dengan autoklaf.

c. Simpan di tempat yang aman pada suhu kamar, tunggu untuk beberapa lama maka akan tumbuh kalus (gumpalan sel baru). Bisa juga selama pemeliharaan dilakukan pengocokan dengan mesin pengocok yang bergoyang 70 kali permenit. Pengocokan dilakukan selama 1,5 - 2 bulan.

Tujuan dari pengocokan adalah untuk merangsang sel-sel eksplan supaya giat bekerja dan memperlancar proses  persiapan zat dan penyebaran makanan merata, serta menjamin pertukaran udara lebih cepat.

d. Kalus yang tumbuh bisa dipotong-potong untuk dipisahkan dan di tanam pada media lain.

e. Kalus tersebut akan tumbuh menjadi tanaman muda (plantlet), kemudian pindahkan ke pot. Jika tanaman tersebut sudah kuat, maka bisa dipindahkan ke media tanah atau lahan pertanian.

Kultur jaringan dapat disimpan dalam suhu rendah sebagai stok atau cadangan. Jika sewaktu-waktu diperlukan, maka jaringan ini dapat diambil dan ditanam. Contoh tanaman yang bisa menjadi objek kultur adalah pisang, mangga, tebu, dan anggrek.

Keuntungan dari kultur jaringan adalah:
  • Dalam waktu singkat dapat menghasilkan bibit yang diperlukan dalam jumlah banyak.
  • Sifat tanaman yang dikultur sesuai dengan sifat tanaman induk.
  • Tanaman yang dihasilkan lebih cepat berproduksi.
  • Tidak membutuhkan area tanam yang luas.
  • Tidak perlu menunggu tanaman dewasa, kita sudah dapat membiakkannya.

2. Kloning

      Kloning adalah penggunaan sel somatik makhluk hidup multiseluler untuk membuat satu atau lebih individu dengan materi genetik yang sama atau  identik. Kloning ditemukan pada tahun 1997 oleh Dr. Ian Willmut seorang ilmuan Skotlandia dengan menjadikan sebuah sel telur domba yang telah direkayasa menjadi seekor domba tanpa ayah atau tanpa perkawinan. Domba hasil rekayasa ilmuan Skotlandia tersebut diberi nama Dolly.

Cara kloning domba Dolly yang dilakukan oleh Dr. Ian Willmut adalah sebagai berikut:
  • Mengambil sel telur yang ada dalam ovarium domba betina, dan mengambil kelenjar mamae dari domba betina lain.
  • Mengeluarkan nukleus sel telur yang haploid.
  • Memasukkan sel kelenjar mamae ke dalam sel telur yang tidak memiliki nukleus lagi.
  • Sel telur dikembalikan ke uterus domba induknya semula (domba donor sel telur).
  • Sel telur yang mengandung sel kelenjar mamae dimasukkan ke dalam uterus domba, kemudian domba tersebut akan hamil dan melahirkan anak hasil dari kloning.

      Jadi, domba hasil kloning merupakan domba hasil perkembangbiakan secara vegetatif karena sel telur tidak dibuahi oleh sperma.

      Kloning juga bisa dilakukan pada seekor katak. Nukleus yang berasal dari sebuah sel di dalam usus seekor kecebong ditransplantasikan ke dalam sel telur dari katak jenis lain yang nukleusnya telah dikeluarkan. Kemudian, telur ini akan berkembang menjadi zigot buatan dan akan berkembang lagi menjadi seekor katak dewasa.

      Kloning akan berhasil apabila nukleus ditransplantasikan ke dalam sel yang akan menghasilkan embrio (sel telur) termasuk sel germa. Sel germa adalah sel yang menumbuhkan telur dari sperma.

3. Makhluk hidup transgenik

      Makhluk hidup transgenik sering disebut sebagai GMOs (Genetically Modified Organisms) yang merupakan hasil rekayasa genetika. Teknik ini mengubah faktor keturunan untuk mendapatkan sifat baru. Teknik ini dikenal dengan rekayasa genetika atau teknologi plasmid. Pengubahan gen dilakukan dengan jalan menyisipkan gen lain ke dalam plasmid sehingga menghasilkan individu yang memiliki sifat tertentu sesuai dengan keinginan si pembuat.

     Teknologi ini dapat dipelajari dari beberapa aplikasi yang telah dikembangkan oleh manusia, antara lain sebagai berikut:

a. Produksi insulin

      Caranya adalah dengan menyambungkan gen pengontrol pembuatan insulin manusia ke dalam DNA bakteri. Kemudian dari hasil penyambungan tersebut akan terbentuk bakteri baru yang mampu menghasilkan hormon insulin manusia. Bakteri ini dipelihara di laboratorium untuk menghasilkan insulin. Insulin yang dihasilkan bisa untuk mengobati penyakit kencing manis.

b. Menciptakan bibit unggul

      Rekayasa genetika untuk memperbaiki tumbuhan supaya menjadi lebih baik, yaitu:
  • Pencakokan gen pembentuk pestisida pada tumbuhan sehingga mampu menghasilkan peptisida mematikan hama.
  • Rekayasa tumbuhan yang mampu melakukan fiksasi nitrogen. Teknologi ini mampu membuat tanaman yang bisa memupuk dirinya sendiri.
  • Rekayasa genetika yang mampu menciptakan tanaman yang mampu memproduksi zat anti koagulan.

4. Hibridisasi

      Hibridisasi adalah persilangan antara varietas dalam spesies yang sama yang memiliki sifat unggul. Hasil dari hibridisasi adalah hibrid yang memiliki sifat perpaduan dari kedua induknya. Teknik ini dapat dilakukan pada tumbuhan dan hewan. Contoh hibrid tumbuhan yang telah dibudidayakan adalah jagung, kelapa, padi, tebu, dan anggrek.

5. Inseminasi buatan

      Inseminasi buatan adalah pembuahan atau fertilisasi yang terjadi pada sel telur dengan sperma yang disuntikkan pada kelamin betina. Jadi, fertilisasi ini tidak membutuhkan hewan jantan, tetapi hanya membutuhkan spermanya saja.

      Inseminasi buatan dilakukan karena bibit pejantan unggul yang hendak dikawinkan dengan bibit betina lokal tidak memiliki waktu masa subur yang bersamaan. Bibit pejantan unggul dikawinkan dengan bibit betina lokal supaya dapat menghasilkan keturunan yang lebih baik.

      Teknologi ini menggunakan metode penyimpanan sperma pada suhu rendah (-80° sampai -20°). Jadi, untuk mendapatkan bibit pejantan unggul untuk mengawini bibit betina lokal tidak perlu dengan membawa individunya tetapi cukup dengan membawa spermanya. Hal ini juga memudahkan proses pengiriman dari suatu negara ke negara lain.

6. Bayi tabung

      Bayi tabung adalah bayi yang merupakan hasil pembuahan yang berlangsung di dalam tabung. Teknologi ini sebenarnya kelanjutan dari teknologi inseminasi buatan, hanya proses pembuahan pada bayi tabung terjadi di luar sedangkan inseminasi terjadi di dalam tubuh. Kedua-duanya sama-sama merupakan perkembangbiakan generatif.

      Kita biasanya sering mendengar istilah bayi tabung bagi pasangan yang kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Hal ini merupakan jalan pintas bagi mereka untuk segera mendapatkan keturunan.

     Proses pembuatan bayi tabung adalah sebagai berikut:
  • Sel telur yang mengalami ovulasi pada induk atau wanita diambil dengan suatu alat dan disimpan di dalam tabung yang berisi medium seperti kondisi yang ada pada rahim wanita hamil.
  • Sel telur dipertemukan dengan sperma di bawah mikroskop dan diamati sehingga terjadi fertilisasi.
  • Sel telur yang sudah dibuahi tersebut dikembalikan ke dalam tabung.
  • Jika sel telur yang sudah dibuahi, disebut zigot, berkembang dengan baik dan menjadi embrio, maka embrio tersebut akan disuntikkan kembali ke dalam rahim induknya semula.

Dampak Rekayasa Reproduksi

      Rekayasa teknologi tidak semuanya berdampak positif bagi kehidupan manusia maupun bagi makhluk hidup lain dan lingkungan. Teknologi yang diciptakan dengan tujuan untuk memakmurkan umat manusia bisa saja menghancurkan manusia itu sendiri jika tidak diikuti dengan keimanan dan ketaqwaan.

Dampak positif rekayasa reproduksi sebagai berikut:
  • Menciptakan bibit unggul.
  • Meningkatkan gizi masyarakat.
  • Melestarikan plasma nutfah.
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi sesuai dengan keinginan manusia.
  • Membantu pasangan yang kesulitan mendapatkan anak dengan jalan pintas yaitu bayi tabung.

Dampak negatif rekayasa reproduksi sebagai berikut:
  • Pada perbanyakan keturunan dengan kultur jaringan yang memiliki materi genetis yang sama akan mudah terkena penyakit.





ASUHAN KEPERAWATAN MASTOIDITIS


ASUHAN KEPERAWATAN MASTOIDITIS


Batasan:
Mastoiditis merupakan keradangan kronik yang mengenai rongga mastoid dan  komplikasi dari Otitis Media Kronis.  Lapisan epitel dari telinga tengah adalah sambungan dari lapisan epitel sel-sel mastoid udara (mastoid air cells) yang melekat ditulang temporal.  Mastoiditis adalah penyakit sekunder dari otitis media yang tidak dirawat atau perawatannya tidak adekuat. 
            Mastoiditis dapat terjadi secara akut maupun kronis.  Pada saat belum ditemukan-nya antibiotik, mastoiditis merupakan penyebab kematian pada anak-anak serta ketulian/hilangnya pendengaran pada orang dewasa.  Saat ini, terapi antibiotik ditujukan untuk pengobatan infeksi telinga tengah sebelum berkembang menjadi mastoiditis.

Etiologi:
Kuman aerob.
-          Positif gram : S. Pyogenes, S. Albus.
-          Negatif gram : Proteus spp, Pseudomonas spp, E. Coli, kuman anaerob.
-          Bakterioides spp

Pathofisiologi:
Timbul dari infeksi yang berulang dari Otitis Media Akut.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya infeksi berulang.
  1. Eksogen : infeksi dari luar melalui perforasi membran timpani.
  2. Rinogen : dari penyakit rongga hidung dan sekitarnya.
  3. Endogen : alergi, DM, TBC paru.

Diagnosis:
  1. Anamnesis
- Otorea terus menerus/kumat-kumatan lebih dari 6-8 minggu.
- Pendengaran menurun (tuli).
  1. Pemeriksaan.
1) Tipe Tubo Timpani (hipertropi, benigna).
- Perforasi sentral.
- Mukosa menebal.
- Audiogram; tuli konduktif dengan “air bone gap” sebesar 30 dB.
- X-foto mastoid: sklerotik.
2) Tipe Degeneratif
-    Perforasi sentral besar.    
-    Granulasi/polip pada mukosa cavum timpani.
-    Audiogram: tuli konduktif/campuran dengan penurunan 50-60 dB.
- X-foto mastoid: sklerotik.
            3) Tipe Metaplastik (atikoantral maligna)
                - Perforasi atik/marginal.
                - Terdapat Kolesteatom
                - Destruksi tulang pada margotimpani
 - Audiogram: tuli konduktif/campuran dengan penurunan 30 atau lebih. 
 - X-foto mastoid: sklerotik.
            4) Tipe Campuran (degeneratif metaplastik)
    - Perporasi marginal besar atau total.
           - Granulasi dan kolesteatom.
           - Audiogram : Tuli konduktif/campuran dengan penurunan 60 dB asal lebih.
           - X-Foto mastoid sklerotik/rongga.
  1. Pemeriksaan tambahan : pembuatan audiogram dan X-foto mastoid.

1.         Penyulit

  1. Abses retro aurikula
  2. Paresis/paralisis syaraf fasialis
  3. Labirintitis
  4. Komplikasi intra kranial: meningitis, abses extra dural, abses otak.

A.       Penatalaksanaan Kolaborasi

B.       Pengkajian

Manifestasi klinik mastoiditis meliputi adanya pembengkakkan dibelakang telinga dan rasa sakit pada saat pergerakan minimal dari tragus, pinna atau kepala.  Rasa sakit tidak berku-rang dengan tindakan Myringotomy.  Selulitis timbul di kulit atau di kulit kepala luar selama proses mastoid berlangsung.  Pada pemeriksaan otostopik ditemukan adanya warna merah, tumpul/majal, tebal, membran timpani yang tidak bergerak dengan atau tanpa per-forasi.  Nodes limpa postauricular teraba lembut dan membesar.  Klien mastoiditis juga dapat mengalami demam yang tidak begitu tinggi, malas dan anoreksia.
 Berdasarkan tipenya, penatalaksanaan terapi dapat dibagi sebagai berikut:
  1. Tipe tubo timpanal stadium aktif:
- Antibiotika: ampisilin/amoxillin (3-4 x 500 mg oral), klindamisin (3x150 mg – 300 mg oral) per hari selama 5-7 hari.
- Pengobatan sumber infeksi dirongga hidung dan sekitarnya.
- Perawatan lokal dengan Perhidrol 3 % dan tetes telinga Chloramphenicol 1-2 %.
- Pengobatan alergi bila ada latar belakang alergi.
Pada stadium tenang (kering) dilakukan Miringoplasty).
  1. Tipe degeneratif:
- Atikoantrotomi
- Timpanoplastik
  1. Tipe metaplastik/campuran.
- Mastoidektomi radikal
- Mastoidektomi radikal & rekonstruksi
Paresis/paralisis syaraf fasialis
  1. Menentukan lokasi lesi
- Dengan tes Scheimer : supra/intra ganglion.
- Refleks stapedeus: positif             lesi dibawah M. Stapedeus.       
                                 negatif            lesi diatasnya                                                     
  1. Mastoidektomi, urgen dan dekompresi syarap fasialis.
  2. Rehabilitasi.

2.         Intervensi

C.       Penatalaksanaan Tanpa Pembedahan.  Terapi antibiotik ditujukan untuk mencegah penye-baran infeksi dari otitis media atau mastoiditis, namun juga ada batas penggunaan untuk pengobatan mastoiditis karena adanya kesulitan untuk menerima efek antibiotik sampai kedalam struktur tulang mastoid yang menonjol.  Dari pemeriksaan biakan dapat ditentu-kan kesensitifan organisme yang menginfeksi terhadap antibiotik tertentu.  Bahan untuk biakan diperoleh dari cairan telinga atau dari tindakan myringotomy.


a.         Penatalaksanaan Pembedahan

Tindakan pembedahan untuk membuang jaringan yang terinfeksi diperlukan jika tidak ada respon terhadap pengobatan antibiotik selama beberapa hari.  Mastoidektomy radikal/total yang sederhana atau yang dimodifikasi dengan tympanoplasty dilaksanakan untuk memu-lihkan ossicles dan membran timpani sebagai suatu usaha untuk memulihkan pendengaran.  Seluruh jaringan yang terinfeksi harus dibuang sehingga infeksi tidak menyebar ke bagian yang lain. 
            Beberapa komplikasi dapat timbul bila bahan yang terinfeksi belum dibuang se-muanya atau ketika ada kontaminasi dari struktu/bagian lain diluar mastoid dan telinga te-ngah. Komplikasi mastoiditis meliputi kerusakan di abducens dan syaraf-syaraf kranial wajah (syaraf-syaraf kranial VI dan VII), menurunnya kemampuan klien untuk melihat ke arah sam-ping/lateral (syaraf kranial VI) dan menyebabkan mulut mencong, seolah-olah ke samping (syaraf kranial VII).  Komplikasi-komplikasi lain meliputi vertigo, meningitis, abses otak, otitis media purulen yang kronis dan luka infeksi.

1)                  TYMPANOPLASTY

Ahli bedah berusaha memulihkan kembali telinga tengah untuk memperbaiki pendengaran yang hilang.  Prosedur pembedahan yang ada bervariasi, mulai dari cara pemulihan yang sederhana pada membran timpani atau dikenal dengan istilah myringoplasty sampai penggantian ossicles didalam telinga tengah.  Tipe I tympanoplasty digunakan pada myringoplasty.  Tindakan tympanoplasty yang bermutu tinggi digunakan untuk kerusakan yang lebih besar serta disiapkan untuk pemulihan yang lebih ekstensif/lebih luas.

3.         Perawatan Pre-Operasi

Perawat mengajarkan secara khusus pada klien yang dijadwalkan untuk menjalani tympanoplasty.  Antibiotik tetes diberikan sebelum pembedahan untuk membunuh organisme yang menginfeksi, cairan yang terdiri dari cuka dan air steril dengan perban-dingan yang sama diberikan untuk mengirigasi telinga, yang bertujuan untuk mengembalikan ke pH normal. 
Hal-hal yang harus dilakukan klien agar tidak terjadi infeksi pre-operasi seperti:
-          menghindari orang-orang yang terinfeksi saluran pernafasan atas.
-          beristirahat yang cukup.
-          mengkonsumsi diet yang seimbang.
-          mempertahankan intake cairan yang adekuat.
Perawat meyakinkan klien bahwa prosedur yang dilaksanakan bertujuan untuk memperbaiki pendengaran, meskipun pada awalnya pendengarannya akan berkurang kare-na adanya balutan di kanal.  Perawat menerangkan pentingnya bernafas dalam setelah ope-rasi.  Mengenai cara batuk yang benar juga perlu diterangkan dan hindari batuk yang kuat, karena dapat meningkatkan tekanan di telinga tengah.

Prosedur Operatif 
Pada awalnya tindakan pembedahan dilakukan hanya bila di telinga tengah dan tuba eusthacia bebas dari infeksi.  Apabila terjadi infeksi, maka hasil dari tindakan graft/pemindahan kulit kemungkinan besar menjadi infeksi dan tidak sembuh sebagaimana mestinya.  Pada pembedahan membran timpani dan ossicles mengharuskan penggunaan mikroskop dan dipertimbangkan sebagai prosedur yang sulit.  Anestesi lokal dapat digunakan meskipun yang sering dipilih adalah anestesi general untuk mencegah klien agar tidak cepat sadar.
            Ahli bedah dapat memperbaiki membran timpani dengan menggunakan bahan-bahan seperti otot fascia temporal, mengambil bagian yang tebal untuk dilakukan skin graft dan jaringan vena.  Apabila ossicles rusak, tindakan yang lebih ekstensif harus diambil untuk memperbaiki atau mengganti tulang yang kecil tersebut.  Ahli bedah menjangkau ossicles dengan salah satu dari 3 cara berikut ini:
  1. Pendekatan Transkanal (Transcanal Approach).
  2. Insisi Endaural (Endaural Incision).
  3. Mengarahkan Postauricular melalui Mastoidektomi (The Postauricular Route via Mastoidectomy).
Ahli bedah kemudian membuang  jaringan penyakit dan membersihkan rongga telinga te-ngah.  Tingkat kerusakan ossicles dikaji dengan teliti agar dapat diperbaiki atau diganti jika perlu.  Ahli bedah menggunakan kartilago autogenous atau tulang, ossicles pada mayat (cadaver), kawat stainless steel atau komponen polytetrafluoroethylene (teflon) untuk memperbaiki atau mengganti ossicles.

4.         Perawatan Post Operasi

Rendaman antiseptik gauze (An Antiseptic-Soaked Gauze), seperti Iodoform gauze (Nuga-uze), dibalut didalam kanal auditori.  Apabila dilakukan insisi postauricular atau endaural, dressing luar ditempatkan diatas tempat operasi.  Dressing dijaga/dipertahankan kebersih-an dan kekeringannya.  Perawat menggunakan teknik steril ketika mengganti dressing.  Klien tetap dalam posisi datar dengan telinga diatas, pertahankan sedikitnya selama 12 jam post operasi.  Terapi antibiotik profilaksis digunakan untuk mencegah kekambuhan.
            Umumnya klien melaporkan mengalami kemajuan setelah balutan pada kanal dilepaskan.  Sampai saat itu, perawat menggunakan teknik komunikasi khusus karena adanya gangguan pendengaran pada klien dan melakukan percakapan langsung pada telinga yang tidak terganggu.  Perawat melatih klien mengenai perawatan post operasi dan pembatasan aktifitas.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat timbul:
1.  Perubahan persepsi/sensori berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran.
      Hasil yang diharapkan: Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensori   pendengaran sampai pada tingkat fungsional.
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.







2.







3.





4.




5.

Kaji tanda-tanda awal kehilangan pendengaran.







Bersihkan serumen yang tersembunyi dengan cara irigasi.
 - Pastikan bahwa klien tidak mengalami perforasi pada membran timpaninya atau tidak mengalami otitis media.
 - Hangatkan cairan untuk irigasi sesuai dengan su-hu  tubuh.

Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh do-sis antibiotik yang diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).



Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat.



Instruksikan klien untuk menggunakan  teknik-tek-nik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
Diagnosa awal terhadap kea-daan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengar-an yang ada memungkinkan pemberian intervensi sebelum pendengaran rusak secara permanen.

Serumen yang letaknya ter-sembunyi dapat menyebab-kan tuli konduktif sehingga menambah masalah pende-ngaran yang sudah ada.



Penghentian terapi antibiotik sebelum waktunya dapat me-nyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut.

Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe ganggu-an/ketulian, pemakaian serta perawatannya yang tepat.

Apabila penyebab pokok ke-tulian tidak progresif, maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilin-dungi.

2.  Rasa cemas berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berkomunikasi. 
     Hasil yang diharapkan: Klien akan menyatakan bahwa rasa cemas mengenai komu-nikasi yang terganggu berkurang dan akan lebih pandai dalam menggunkan alternatif teknik komunikasi.
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.




























2.





3.










4.








5.




6.

Demonstrasikan aktifitas yang dapat meningkatkan pemahaman terhadap komunikasi verbal.
 - Atur posisi perawat langsung didepan klien.
 - Yakinkan wajah anda (perawat) dan wajah klien berada dalam pencahayaan yang cukup.
 - Dapatkan perhatian klien terlebih dahulu  sebe-lum anda mulai bicara.
 - Atur jarak anda sedekat mungkin dengan klien.
 - Gunakan nada suara yang normal.
 - Jangan berteriak.
 - Jauhkan tangan & benda lain dari mulut anda ke-tika berbicara dengan klien (karena dapat meng-halangi  klien untuk melihat gerak bibir anda).
 - Apabila memungkinkan, lakukan percakapan di ruang pribadi/tertutup tanpa ada gangguan suara luar.
 -  Validasikan dengan klien mengenai pemahaman-nya terhadap pernyataan perawat dengan cara: suruh klien untuk mengulangi atau menjelaskan kembali pernyataan tersebut dengan mengguna-kan kata-kata klien sendiri.
 - Gunakan indera atau media lain selama ber-komunikasi, seperti:
    © Gerakan tangan.
    © Perubahan/mimik wajah.
    © Sentuhan.
    © Gambar-gambar.
    © Tulisan.

Jujur kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari  fungsi pendengaran nya  untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi.

Kaji kemampuan klien dalam membaca & menulis.










Beritahukan/kenalkan pada  klien semua alternatif metode komunikasi (seperti bahasa isyarat & membaca bibir) dengan langkah yang tepat untuk masing-masing klien.





Berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien.


Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang  dapat membantu klien.
Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomuni-kasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus, se- hingga dapat mengurangi ra-sa cemasnya.























Harapan-harapan yang tidak  realistik tidak dapat mengura-ngi kecemasan, justru malah menimbulkan ketidakpercaya an klien terhadap perawat.

Komunikasi dengan cara me-nulis  dapat efektif dalam mempertahankan kemandiri-an klien, harga diri serta kon-tak sosialnya; bagaimanapun komunikasi dengan cara ini tidak nyaman atau tidak me-mungkinkan bagi klien yang minim keterampilan memba-ca & menulisnya.

Memungkinkan klien untuk memilih metode komunikasi yang paling tepat untuk kehi-dupannya sehari-hari disesu-aikan dengan tingkat kete-rampilannya sehingga dapat mengurangi rasa cemas & frustasinya.

Dukungan dari beberapa orang yang memiliki penga-laman yang sama akan sangat membantu klien.

Agar klien menyadari sum-ber-sumber apa saja yang ada disekitarnya yang dapat men- dukung dia untuk berkomu-nikasi.

3.  Kerusakan berkomunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran.
     Kriteria hasil:
     Klien akan:
-          Memakai alat bantu dengar (jika sesuai).
-          Menerima pesan melalui metoda pilihan (misal: komunikasi tulisan, bahasa lam-bang, berbicara dengan jelas pada telinga yang “baik”.
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.







2.



























3.



Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan & catat pada rencana perawatan metode yang diguna-kan oleh staf dan klien, seperti:
© Tulisan.
© Berbicara.
© Bahasa isyarat.

Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara ver-bal.
a. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga, ber-bicara dengan perlahan & dengan jelas langsung ke telinga yang baik (hal ini lebih baik daripada berbicara dengan keras).
-          Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu.
-          Dekati klien dari sisi telinga yang baik.
b.  Jika klien dapat membaca ucapan:
-          Lihat langsung pada klien & bicaralah lam-  bat & jelas.
-          Hindari berdiri didepan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda.
c.  Perkecil distraksi yang dapat menghambat kon- sentrasi klien.
-          Minimalkan percakapan jika klien kelelah-an atau gunakan komunikasi tertulis.
-          Tegaskan komunikasi penting dengan me-nuliskannya.
d.  Jika ia hanya mampu bahasa isyarat, sediakan penerjemah.  Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak kepada penterjemah.  Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara kepada klien dengan mengabaikan keberadaan penterjemah.

Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pende-ngaran dan pemahaman.
 ©  Bicara dengan jelas, menghadap individu.
 © Ulangi jika klien tidak memahami seluruh isi  pembicaraan.
©       Gunakan rabaan & isyarat untuk meningkatkan komunikasi.
©       Validasi pemahaman individu dengan menga-  jukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dari “ya” atau “tidak”.
Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan  dapat dise-suaikan dengan kemampuan & keterbatasan klien.


Pesan yang ingin disampai-kan oleh perawat kepada kli-en dapat diterima dengan ba-ik oleh klien.
























Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat de-ngan klien dapat berjalan de-ngan baik & klien dapat me-nerima pesan perawat secara tepat.






PENGKAJIAN DATA


Nama Mahasiswa : Subhan
Tempat Praktek    : Ruang THT
Tanggal                 : 9 s/d 10 April 2001

I.  Identitas Klien
    Nama                       : Ny. SM
    Umur                       : 31 tahun
    TTL                         :  -
    Jenis kelamin           : Perempuan
    Alamat                    : Jl. Candu RT I  RW I Blitar.    
    Status perkawinan   : Kawin
    Agama                     : Islam
    Suku                        : Jawa
    Pendidikan              : SMA
    Pekerjaan                 : Ibu Rumah tangga
    Lama bekerja           : -
    MRS                        : 5 April 2001
    Keluarga terdekat   : Suami
    Pendidikan              : SMA
    Pekerjaan                 : Swasta
    Alamat                    : Jl. Candu RT I RW I Blitar.

II.  Status Kesehatan Saat Ini:
1.      Alasan kunjungan ke RS: Pendengaran menurun/tidak mendengar sejak 2 tahun, telinga kanan dan kiri.
2.      Keluhan utama saat ini:Otore kanan dan kiri sejak 2 tahun, kumat-kumatan.  1 bulan ini telinga kanan dan kiri sering basah.
3.      Lama keluhan : 1 bulan.
    4.   Timbulnya keluhan:  Hilang-timbul.
    5.  Faktor yang memperberat: Bila batuk pilek.                          
6.  Upaya yang dilakukan untuk mengatasi: Bila kambuh, berobat ke RSU Wlingi Blitar dan ke dokter praktek.
      7.   Diagnosa medik:  Mastoiditis (tanggal 5 April 2001).  Tanggal 5 April 2001 post op Myringoplasty.

III.  Riwayat Kesehatan Yang Lalu:
    Tuli konduksi D/S, perforasi membran timpani/perforasi sub total D/S.  Sudah 2 tahun berobat ke RSU Wlingi Blitar dan ke dokter praktek.  Klien tidak memiliki riwayat alergi.

IV. Pengkajian Fisik
      Tanggal    April 2001:
1.      Sistem Pernafasan (B 1)
RR = 20 x/mnt, tidak ada sesak nafas, tidak ada batuk pilek, tidak memiliki riwayat asma dan suara nafas normal.
2.      Sistem Hemodinamika (B 2)
TD = 130/80 mmHg, nadi = 84 x/mnt, suhu = 36,5 oC, suara jantung vesikuler.  Perfusi perifer baik, turgor baik, intake-output seimbang, infus RL 20 tts/mnt, klien tampak gelisah.
3.      Sistem Kesadaran dan Otak (B 3)
Kadang-kadang kepala pusing/vertigo, bentuk kepala simetris, GCS= 4  5  6, pupil normal, orientasi baik, tuli konduksi telinga kiri dan kanan.  Tidak ada tanda-tanda parese pada syaraf VII.  Post op Myringoplasty tanggal 6 April 2001, verban tampak terpasang dan terawat baik.
Audiogram tanggal:
Tanggal






























          K1
          K1
          K1
          K1
          K1
         
          125           250             500              1 K                        2 K             4 K           8 K
4.      Sistem Perkemihan (B 4)
Baik 2-3 x/hr, warna kuning jernih.
5.      Sistem Pencernaan (B 5)
Nafsu makan baik, tidak ada mual/muntah, BAB 2 x/hr pagi dan sore.  Klien tidak ada sakit maag.
6.      Sistem Integumen dan Muskuloskeletal (B 6)
Mandi 2 x/hr pagi dan sore, kulit bersih, tidak ada nyeri otot dan persendian.

V.   Pengkajian Psikososial
1.      Pola pikir dan persepsi: kesulitan yang dialami klien: klien kesulitan melakukan komunikasi dengan orang lain.
2.      Persepsi diri: saat ini selain klien memikirkan penyakitnya, juga memikirkan kelu-arganya (suami dan anak-anaknya).
3.      Suasana hati: gelisah dan khawatir memikirkan bagaimana bisa membeli alat bantu pendengaran (masalah keuangan).
4.      Hubungan/komunikasi: bicara dengan klien harus keras dan menggunakan isyarat dengan tangan, jarak harus dekat dengan klien.
5.      Kehidupan keluarga:
-    Adat istiadat yang dianut: Jawa.
-    Pembuat keputusan dalam keluarga: suami.
-     Pola komunikasi: suami memutuskan setiap permasalahan yang perlu pengambilan keputusan.
-     Keuangan: pas-pasan.

VI.  Data Laboratorium dan Radiologi:
      Tanggal 7 Maret 2001
      Foto Ro:     - Mastoiditis bilateral tipe sklerotik.
                           - Cor: besar dan bentuk normal.
                           - Pulmo: tidak tampak kelainan.
                           - Sinus phrenice-costalis kiri dan kanan.
      Tanggal 7 Maret 2001
      Laboratorium:
-          Urea N: 6 mg/dl.
-          Kreatinin serum: 0,7 mg/dl.
-          Bilirubin direk: 0,18 mg/dl.
-          Bilirubin total: 0,73 mg/dl.
-          SGOT: 20 U/L.
-          SGPT: 18 U/L.

VII. Terapi/Pengobatan
-          Infus RL 20 tts/mnt.
-          Klindamycin 3x300 mg.
-          Mefenamat acid 3x500 mg k/p.
-          Rawat luka (ganti verban).
-          Operasi Myringoplasty tanggal 6 April 2001.

Analisa Data
TGL
KELOMPOK DATA
KEMUNGKINAN
PENYEBAB
MASALAH
DIAGNOSA
9/4/
2001










10/4/
2001








10/4/
2001
DS:Klien mengatakan ia ti-dak bisa mendengar, bi-la diajak berbicara ha-rus keras & dekat.
DO: - Audiogram klien tuli konduksi sedang kanan & kiri.
-          Diajak bicara lebih banyak diam.
-          Bicara dengan kli-en harus keras.

DS: Klien mengeluh pu-sing sewaktu duduk/ bangun tidur.
DO: -TD: 130/80 mmHg, nadi: 84x/mnt, RR: 20 x/mnt.
-          Gelisah.
-          Post op Myringo-plasty.

DS: Klien menanyakan bagaimana cara mera-wat telinganya bila pulang nanti.
DO: -Klien gelisah.
-          Bicara harus keras.
-          Komunikasi deng-an orang lain sulit.
-          Klien tinggal diluar kota Surabaya, yai-tu di Wlingi, Bli-tar.
Penurunan pende-ngaran.










Vertigo









Ketidakcukupan pengetahuan

Kerusakan Ko-munikasi










Cedera









Ketidak efek-tifan penata-laksanaan program terapeutik.
Kerusakan ko-munikasi ber-hubungan de-ngan penurun-an pendengaran






Resiko terha-dap cedera berhubungan dengan vertigo






Ketidak efek-tifak penata-laksanaan program tera-peutik berhu-bungan dengan ketidak cukup-an pengetahu-an tentang pe-rawatan telinga & tanda-tanda gejala kompli-kasi.


NO
TGL
DIAGNOSA
TUJUAN
KRITERIA
INTERVENSI
RASIONAL
IMPLEMENTASI
EVALUASI
1.




































2.




















3.
10/4/
2001



































10/4/
2001



















10/4/
2001

Kerusakan komunikasi berhubungan dengan penu-runan pendengaran.


































Resiko terhadap cedera berhubungan dengan verti-go.


















Ketidakefektifan penata-laksanaan program tera-peutik berhubungan deng-an ketidakcukupan penge-tahuan tentang perawatan telinga; tanda-tanda gejala dan komplikasi yang mungkin terjadi.


Klian mampu melakukan komunikasi dengan setiap orang.


































Cedera tidak terjadi




















Penatalaksanaan program terapeutik efektif.
Klien mampu:
-menerima pe-san-pesan me-lalui metoda alternatif.
































-Pusing/vertigo  berkurang/hilang.
-Kllien tidak ge-lisah lagi.

















Klien mampu menjelaskan kembali/mengu-lang kembali apa yang telah dije-laskan perawat.



1. Gunakan fak-tor-fakto yang meningkatkan pendengaran & pengertian.

2. Berikan meto-da alternatif komunikasi.

3. Berikan ling-kungan yang tenang.

4. Tulis & bicara pesan-pesan yang penting.




















1. Orientasikan klien terhadap sekelilingnya.

2. Awasi klien secara ketat.



3. Pertahankan tempat tidur pada ketinggi-an yang pa-ling rendah.

4. Berikan terapi analgesik: Asam Mefe-namat 500 mg 3x1 tab.

1. Identifikasi faktor-faktor penyebab yang meng-hambat pene-talaksanaan yang efektif.

2. Jelaskan & bi-carakan pro-ses penyakit, aturan pera-watan & pengobatan, perubahan ga-ya hidup, sumber-sum-ber dukungan yang tersedia.

3. Jelaskan bah-wa perubahan dalam gaya hidup & kebu-tuhan belajar akan membu-tuhkan waktu untuk terinte-grasi.

Memaksimalkan kemampuan ko-munikasi klien.


































Agar klien tahu dimana ia bera-da.

Untuk menghin-dari & memper-kecil kemungki-nan cedera.

Memudahkan klien untuk turun naik tempat ti-dur.


Untuk menghi-langkan/mengu-rangi nyeri.



Segera dapat me-ngetahui & me-ngatasi faktor yang menghala-ngi penatalaksa-naan yang efektif


Agar klien me-ngetahui & me-ngerti tentang perawatan & pe-ngobatan penya-kitnya.






Setiap perubahan memerlukan pro-ses adaptasi yang lama.
1. Bicara terang & jelas mengha-dap kearah kli-en.
2. Mengulangi & mempersingkat kata.
3. Menyentuh ta-ngan & bahu klien untuk me-ningkatkan ko-minikasi.
4. Menggunakan kertas & pensil untuk berkomu-nikasi.
5. Mengurangi gangguan eks-ternal.
6. Menganjurkan klien untuk menggunakan waktu bicara yang cukup & menggunakan kata-kata serta gerrakan bibir yang jelas.
7. Menulis & bi-cara pada klien mengenai pesan & perintah yang penting menge-nai perawatan & pengobatan-nya.

1. Menjelaskan kondisi diruang
   an.
2. Menganjurkan keluarga untuk mendampingi klien bila ingin kekamar mandi/ WC.
3. Menyarankan klien untuk ti-dak langsung bangun/duduk.
4. Menyetel tem-pat tidur seren-dah mungkin.
5. Memberikan asam Mefena-mat 500 mg.


1. Menanyakan masalah-masa-lah yang mem-buat klien geli-sah & khawa-tir.
2. Menjelaskan bahwa:
 - kemampuan pendengaran klien tetap tidak pulih, tetapi ke-luhan-keluhan-nya dulu akan hilang.
 - Agar kontrol secara teratur.
 - Menganjurkan untuk membeli alat bantu de-ngar. 
3. Memberikan materi penjelas-an secara berta-hap & tertulis.
4. Menganjurkan klien untuk me-ngunjungi dok-ter spesialis THT dikotanya, agar ia mempe-roleh penjelasan atas kesulitan yang dihadapi bila telah pu-lang nanti.
Klien mampu melakukan komunikasi walau harus bicara dengan keras.































-Pusing/verti-go tidak terja-di.
-Cedera tidak terjadi.
















-Klien & ke-luarga dapat mengerti apa yang telah di jelaskan & akan tetap kontrol ke RS bila telah sembuh.
-Klien dapat memahami & mengerti ha-rus kemana bila mengala-mi kesulitan mengenai pe-rawatan te-linganya.


















DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda Juall.  2001.  Buku Saku Diagnosis Keperawatan.  EGC.  Jakarta.
Donna.  1995.  Medical Surgical Nursing; 2nd Edition.  WB Saunders.
Iskandar, H. Nurbaiti,dkk  1997.  Buku Ajar Ilmu Penyakit THT.  Balai Penerbit FKUI.  Jakarta.
Mukmin, Sri; Herawati, Sri.  1999.  Teknik Pemeriksaan THT.  Laboratorium Ilmu Penyakit THT, FK UNAIR.  Surabaya.